Subscribe:


I'itiqad Ahlussunnah Wal-Jama'ah


Keterangan Umum

A. Istilah-istilah
Dalam memahami soal-soal i'itiqad (kepercayaan) dalam Islam lebih baik terlebih dahulu dimaklumi istilah2 yang terpakai dalam lingkungan ini.

Usuluddin artinya Pokok Agama
Ilmu Usuluddin artinya Ilmu Pokok-pokok Agama
Didalam Ilmu Ushuluddin dibicarakan soal-soal i'itiqad yang menjadi pokok bagi Agama, yaitu :
a. Kepercayaan (i'itiqad) yang bertalian dengan Ketuhanan (Ilahiyat)
b. Kepercayaan yang bertalian dengan Kenabian (Nubuwaat)
c. Kepercayaan yang bertalian dengan soal-soal yang gaib (hari akhirat,surga,neraka, dll)
d. dll...

Ilmu Ushuluddin kadang-kadang dinamai dengan ilmu Kalam, yakni Kalam Tuhan karena dalam ilmu ini banyak dibicarakan sifat2 Tuhan, diantaranya sifat Kalam (berkata). Ulama-ulama dan ahli-ahli ilmu Kalam dinamai Mutakallimun atau Mutakallimin.
Ada juga orang menamai ilmu ini dengan Ilmu Tauhid (ilmu ke Esaan Tuhan), Ilmu 'Aqaid (ilmu i'itiqad) dll.

B. Arti Ahlussunnah Wal Jama'ah

Arti Ahlussunnah ialah Penaganut Sunnah Nabi.
Arti wal Jama'ah ialah Penganut i'itiqad sebagai i'itiqad Jama'ah sahabat-sahabat Nabi.

Kaum Ahlussunnah wal Jama'ah ialah kaum yang menganut i'itiqad sebagai i'itiqad yang dianut oleh Nabi Muhammad Saw. dan sahabat-sahabat beliau.

I'itiqad Nabi dan sahabat-sahabat itu telah termaktub dalam al Qur'an dan dalam Sunnah Rasul secara terpencar-pencar, kemudian dikumpulkan dan dirumuskan dengan rapi oleh ulama Ushuluddin yang besar, yaitu Syeikh Abu Hasan 'Ali al Asy'ari (lahir di Basrah tahun 260H. - wafat tahun 324H).

Sudah menjadi kebiasaan dalam dunia Islam, bahwa hukum-hukum agama yang digali dari Qur'an dan Hadists oleh seseorang Imam, maka hukum itu dinamai "madzhab". Jadi hasil ittihad Imam Hanafi dinamai madzhzab Hanafi, demikian juga hasil itjihad Imam Maliki (Madzab Maliki), Madzhab Syafi'i dan Mazhab Hanbali, walaupun pada hakikatnya semua adalah agama Allah yang termaktub atau tersirat dan tersurat didalam Al Qu'an dan Hadist.

Begitu juga dalam soal-soal i'itiqad. Hasil galian dari Qur'an dan Hadist oleh Imam Abu Hasan al Asy'ari dinamai faham Asy'ari, walaupun pada hakikatnya Imam As'ari hanya menggali, merumuskan, memfatwakan, menyiarkan, mempertahankan apa yang sudah ada dalam Qu'an dan Hadist juga, apa yang sudah dii'tiqadkan oleh Nabi Muhammad Saw dan sahabat-sahabat beliau.

C. Firqah-Firqah dalam Islam

Dalam sejarah Islam telah tercatat adanya firqah-firqah (golongan) di lingkungan Umat islam, yang antara satu sama lain bertentangan fahamnya secara tajam yang sulit untuk diperdamaikan, apalagi untuk dipersatukan.
Umat Islam, khususnya yang berpengetahuan agama tidak heran melihat dan membaca hal ini, karena Nabi Muhammad Saw sudah juga mengabarkan pada masa hidup beliau.
Banyak terdapat hadist-hadist yang bertalian dengan akan adanya firqah-firqah yang berselisih faham dalam lingkungan ummat Islam, yaitu antara lain :

(a). Bersabda nabi Muhammad Saw :
Artinya: "maka bahwasanya siapa yang hidup (lama) diantaramu niscaya akan melihat perselisihan (faham) yang banyak. Ketika itu pegang teguhlah SunnahKu dan Sunnah khalifah Rasyidin yang diberi hidayah. Pegang teguhlah itu dan gigitlah dengan gerahammu". (HR. Imam Abu Daud).

(b). Nabi Muhammad Saw bersabda :
Artinya : "Akan ada dilingkungan umatku 30 orang pembohong yang menda'wakan bahwa ia Nabi. Saya adalah Nabi penutup, tidak ada lagi nabi sesudahku' (HR. Tirmidzi).

(c). Bersabda Nabi Muhammad Saw:
Artinya :"Akan keluar suatu kaum akhir zaman, orang-orang muda berfaham jelek. mereka banyak mengucapkan perkataan "Khairil Bariyah" (Maksudnya firman-firman Tuhan yang dibawa oleh Nabi). Sesungguhnya Iman mereka tidak melampaui kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama sebagai meluncurnya anak panah dari busurnya. Kalau orang-orang ini berjumpa denganmu lawanlah mereka. (Hadits sahih riwayat Imam Bukhari )...

Terang sekali dalam hadist ini bahwa akan ada "menurut nabi" sekumpulan orang-orang muda yang sok aksi mengeluarkan fatwa-fatwa agama berdasarkan Qur'an dan Hadist, tetapi keimanan mereka tipis sekali dan bahkan keimananya keluar dari dirinya secepat keluarnya anak panah dari busurnya.
Maksudnya : bahwa mereka banyak ngomong Hadist-hadist dan Qur'an, namun kurang memahami maknanya, mereka tidak beragama, dan tidak menjalankan tuntunan agama secara benar.

(d). Tersebut dalam kitab hadis begini :
Artinya: "dari Abi Hurairah Rda. beliau berkata, bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda : "telah berfirqah-firqah orang yahudi atas 71 firqah dan orang Nahara seperti itu pula dan akan ber firqah umatku atas 73 firqah" (HR. Imam Tirmidzi).

(e). Nabi bersabda :
Artinya : "Bahwasanya Bani Israil telah berfirqah-firqah sebanyak 72 millah (firqah) dan akan berfirqah umatku sebanyak 73 firqah, semuanya masuk neraka kecuali satu "
sahabat-sahabat yang mendengar ucapan ini bertanya : "siapakah yang satu itu Ya Rasulullah ?"
Nabi menjawab :"Yang satu itu ialah orang-orang yang berpegang (beri'itiqad) sebagai peganganku dan pegangan sahabat-sahabatku " (HR. Imam Tirmidzi)

(f). Tersebut dalam kitab Thabrani, bahwa Nabi bersabda :
Artinya : Demi Tuhan yang memegang jiwa Muhammad di tangan Nya, akan berfirqah ummatku sebanyak 73 firqah; yang satu masuk surga dan yang lain masuk neraka".
Bertanya para sahabat :"siapakah firqah (yang tidak masuk neraka) itu Ya Rasulullah ?"
Nabi menjawab : "Ahlussunnah wal Jama'ah". (HR. Imam Thabrani).

(g). Nabi Muhammad Saw bersabda :
Artinya : "akan ada segolongan dari ummatku yang tetap atas kebenaran, samapai hari kiamat dan mereka tetap atas kebenaran itu". (Hadist sahih riwayat Bukahari).

KESIMPULAN :
Melihat hadist-hadist yang sahih ini dapat diambil kesimpulan :

- Nabi Muhammad saw mengabarkan sesuatu yang akan terjadi dalam lingkungan umat islam secara mu'jizat, yaitu mengabarkan hal-hal yang akan terjadi. Kabar ini tentu diterima beliau dari Allah.
- Sesudah Nabi wafat akan ada perselisihan faham yang banyak, samapi 73 faham (i'itiqad).
- Ada segolongan kaum muda pada akhir zaman yang pandai berbicara dan mengeluarkan dalil-dalil dari al Qur'an, tetapi keimanannya tipis (hanya dibibir saja, tidak dijalankan).
- Ada 30 orang pembohong yang mengaku nabi. Dan orang2 Khawarij yang paling jahat.
- Diantara yang 73 golongan itu ada satu yang benar, yaitu golongan kaum Ahlussunah wal Jama'ah yang selalu berpegang kepada sunnah Nabi dan Sunnah Khalifah Rasyidin.
- Mereka ini akan selalu mempertahankan kebenaran i'itiqadnya samapai hari kiamat..


Perkembangan Islam tersebut dalam kitab Buqyatul Mustarsyidin, karangan Mufti Syaikh Said Abdurrahman bin Muhammad bin Husein bin Umar, yang dimasyurkan dengan gelar Ba'Alawi, cetakan Mathba'ah Amin Abdul Majid Cairo (1381 H) bahwa 72 firqah yang sesat itu berpokok pada 7 firqah, yaitu :

- Kaum Syiah, kaum yang berlebih-lebihan memuja Saidina "ali Karamallahu wajhahu. Mereka tidak mengakui Khalifah-khalifah Rasyhidin. Kaum syiah kemudian berpecah menjadi 22 aliran.
Diantaranya adalah : Kaum Qadariyah (kaum Mu'tazilah), kaum Bahaiyah dan Ahmadiyah Qad-Yan
- Kaum Khawarij, yaitu kaum yang berlebih-lebihan membenci Saidina 'Ali. Faham ini suka mengkhafir-khafirkan umat islam lain nya yang tidak sepaham & mengikuti fahamnya. Hati-hati dengan paham ini !
Kaum Khawarij kemudian berpecah menjadi 20 aliran
- Kaum Mu'tazilah, yaitu kaum yang berpaham bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat, Tuhan tidak bisa dilihat dengan mata di Surga, Mi'raj Nabi Muhammad hanya dengan Ruh saja, dll.
Kaum Mu'tazilah berpecah menjadi 20 aliran.
- Kaum Murjiah, yaitu kaum yang menfatwakan bahwa membuat maksiat tidak memberi mudharat kalau sudah beriman, sebaliknya membuat kebajikan tidak memberi manfa'at kalau Kafir.
Kaum ini pecah menjadi 5 aliran..
- Kaum Najariyah, yaitu kaum yang menfatwakan bahwa perbuatan manusia adalah makhluk, yakni dijadikan Tuhan, tetapi mereka berpendapat bahwa sifat Tuhan tidak ada. Pecah menjadi 3 aliran
- Kaum Jabariyah, yaitu kaum yang memfatwakan bahwa manusi "majbur", artinya tidak berday apa-apa. Kasab atau usaha tidak ada sama sekali. Hanya ada 1 aliran..

- Kaum Musyabbihah, yaitu kaum yang memfatwakan bahwa ada keserupaan Tuhan dengan manusia, umpamanya bertangan, berkaki, duduk di kursi dan lain..
Hati-hati: Kaum Ibnu Taimiyah masuk dalam golongan ini, dan kaum Wahabi termasuk kaum pelaksana dari faham Ibnu Taimiyah.

- Hanya Kaum Ahlisunnah Wal jama'ah (Insya Allah, Islam yang lurus)


Jika ditotal semua ada 73 golongan


bersambung jilid 2
diambil dari karangan KH Siradjuddin Abbas (Mulai ditulis beliau : 1966)
(Cetakan ke-satu 1978)


DI INDONESIA, Islam dikesankan memiliki banyak sekali golongan. Bahkan ada kelompok yang mengklaim dirinya sebagai ahlus-sunnah wal jamaah, sementara itu kelompok lain merasa diri mereka lebih layak disebut ahlus sunnah wal jamaah.
Dengan berbagai organisasi Islam yang ada di Indonesia, baik yang berbadan hukum seperti organisasi masyarakat (ormas), organisasi sosial (orsos), yayasan/organisasi non pemerintah (ornop), dan organisasi politik (orpol)/partai, telah membuat kesan labelisasi Islam dibenak kaum muslimin awam. Seolah jika berbeda satu segi saja sudah bisa dibilang beda Islamnya. Belum lagi organisasi yang memakai bendera Islam tetapi cenderung mendakwahkan isme-isme thogut seperti liberalisme, pluralisme, sosialisme, dan lainnya semakin memusingkan kaum awam, sehingga berkecenderungan berhenti mencari ilmu Islam kaffah --untuk melindungi diri dari kelompok-kelompok Islam diluar pengetahuannya—sedangkan mereka terakhir mempelajari agama hanya sampai kanak-kanak semasa membaca IQRO.

Berjamaah haruskah dan kepada jamaah yang mana?
Setelah wafatnya Rasulullah SAW, umat Islam benar-benar dikatakan dalam satu jamaah yang diayomi khalifah sebagai pemimpin tertingginya. Hingga setelah zaman khilafah benar-benar runtuh pada tahun 1924 M, umat Islam terdikotomi dengan batasan teritori negara dan bangsa dengan beragam sistem dan bermacam-macam kelompok.
Ahmad meriwayatkan: Dari Abu Umamah al-Bahili dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Ikatan-ikatan Islam akan lepas satu demi satu. Apabila lepas satu ikatan, akan diikuti oleh (lepasnya) ikatan berikutnya. Ikatan Islam yang pertama kali lepas adalah pemerintahan, dan yang terakhir adalah shalat.”[1]
Bukhari meriwayatkan di dalam Shahih-nya dari Hudzaifah bin al Yaman, Rasulullah SAW, ia berkata: “Orang-orang biasa menanyakan kepada Rasulullah SAW tentang kebaikan, dan aku pernah menanyakan kepadanya tentang keburukan, karena aku khawatir menemui keburukannya itu. Aku bertanya, “Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemui keadaan itu?” Beliau bersabda, hendaklah engkau berkomitmen dengan Jamaatul Muslimin dan imam mereka.”[2]
Surat Ali-Imran, 3 ayat 103 disebutkan: Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali agama Allah, dan janganlah kamu bercerai berai dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu di bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya.”
Begitu pentingnya seorang muslim dengan jamaah, bahkan walaupun sekalipun seseorang itu puasa, sholat, dan mengaku muslim seseorang akan dikatakan telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya, jika ia meninggalkan jamaah.[3]
Umat islam dikatakan selamat jika ahlus sunnah wal jamaah, artinya mengikuti sunah/cara-cara yang Nabi SAW lakukan dan berjamaah. Sedangkan muslim yang berjamaah sangat dibenci golongan setan dari pada muslim yang sendirian. Di sisi lain ada juga yang mengkotak-kotakkan kaum muslim berdasarkan mahzabnya.
Saat ini yang dimaksud jamaatul muslimin seperti saat zaman Rasulullah dan khilafah belum muncul lagi. Yang ada ditubuh umat saat ini merupakan jamaahnya dari umat Islam, jadi banyak jamaah dengan banyak amir/pemimpin, bukan jamaatul muslimin yang utuh. Tetapi tetap saja, jika kita mengasingkan diri dengan jamaah yang ada berarti menjerumuskan umat pada perpecahan.  
Dari Muadz bin Jabal dari Rasulullah SAW, “Sesungguhnya setan adalah serigala bagi manusia, seperti serigala bagi kambing yang memakan kambing yang keluar dari kawanan dan menyendiri. Karena itu, jauhilah perpecahan dan hendaklah kami bersama jamaah dan orang banyak.”[4]
Mari kita tentukan mana saja jamaah-jamaah yang ada di zaman sekarang dalam rangka mencari bentuk terdekat kepada proses pencapaian terbentuknya jamaatul muslimin seluruh dunia. Tetapi untuk itu kita mesti memahami jalan menuju terbentuknya jamaah muslim.

Jan 31, 2010

0
Visit us again on another day.
We are preparing good articles for you.
Thanks.
 
Copyright 2010 Towards Unity Mankind